Setiap hari ada saja celoteh lucu Gaza. Seperti tadi pagi. Tidak tahu kenapa Gaza marah-marah. Aku coba dekati untuk mengetahui penyebab kemarahannya.
“Mas Gaza kok marah-marah kenapa? Marah sama Bunda ya?” tanyaku
“Gaza nggak marah sama Bunda.” Jawabnya
Cuma aku masih curiga dan takut kalau-kalau Gaza tidak berani berterus-terang.
“Tapi, Bunda tahu Mas Gaza masih marah. Iya khan?” aku pura-pura menebak perasaannya. “Kenapa sih, Mas? Bunda jadi sedih. Mas Gaza gak mau khan melihat Bunda sedih?” aku pura-pura merajuk.
Mungkin karena perasaan Iba dan takut membuat aku sedih mungkin, akhirnya Gaza berterus terang.
“ Bunda jangan sedih ya, Bunda jangan marah ya, Gaza malas belajar…Gaza mau main aja sama teman-teman.”katanya dengan lembut di telingaku.
“Oo…Gaza marah karena itu…” Gumamku sambil mengangguk-angguk seperti menghadapi masalah serius.” Kalau Cuma karena gak mau belajar kenapa Gaza yang marah? Khan seharusnya Bunda yang marah.” Lanjutku lagi.
“Habis Gaza “Emosi” kenapa Bunda suruh Gaza Belajar. Main aja banyak-banyak Gaza khan anak kecil bukan anak besar, Gaza Emosi.” Jawabnya berapi-api. Mungkin kalau orang Dewasa “protes” kali ya…
Akhirnya aku memberikan pengertian dengan bahasanya dia kenapa dia harus belajar. Yang aku gak habis pikir…darimana Gaza mendapatkan kata “emosi”. Kalau ingat itu aku geli sendiri
Read more...
Friday, July 10, 2009
GAZA "EMOSI"...BUNDA
GAZA OH GAZA...
Gaza putraku kian lucu saja. Gimana nggak, banyak sekali tingkah laku maupun ucapan-ucapannya yang sangat lucu keluar dari mulutnya. Misalkan dengan tiba-tiba dia bilang :
“ Bunda, Gaza punya ide…” sambil menunjuk ke pelipis kepalanya dengan serius seolah-olah dia mendapatkan ide cemerlang. Padahal ide yang keluar dari mulutnya itu suatu permintaan untuk membolos belajar hari itu. Ngeselin tapi lucu.
Apalagi sekarang dia sudah berani jahilin Bundanya sama Ayahnya. Seperti kejadian baru-baru ini. Aku memang biasa menemani Gaza bermain, entah dokter-dokteran ataupun permainan lain Polisi-polisian. Nah ada kejadian lucu saat Gaza bermain dokter-dokteran dan aku yang jadi pasiennya. Sementara ayahnya waktu itu sedang tiduran sambil nonton TV.
Dengan gaya seorang dokter dia memeriksaku sambil menanyakan keadaanku:
‘’ Ibu sakit ya?” tanyanya
“ iya , Pak Dokter…”aktingku berpura-pura sakit.
“Suami ibu mana?” tanyanya lagi. Cuma pertanyaan yang dilontarkan ke aku itu membuat aku kaget dan tertawa karena lucu. Soalnya biasanya Gaza panggil aku Bunda.
“suami saya itu lagi nonton TV Pak Dokter…” jawabku sambil nunjukin ayahnya yang lagi di depan TV.
“Oo…gitu..”gumamnya sambil deketin ayahnya. Tiba-tiba dia bilang sama ayahnya, yang membuat aku jadi tertawa geli adalah cara dia berkata.
“Suami-suami, istrinya sakit suami…” katanya yang dijawab dengan tertawa geli ayahnya. “ Ini resep obat buat istrinya ya suami…belinya diapotik ya” lanjutnya lagi sambil memberikan coretan kertas yang pura-puranya sebagai resep dokter.
“iya, Pak Dokter…” jawab ayahnya dengan tertawa terpingkal-pingkal.
Read more...
Sunday, June 28, 2009
DENGAR...! GAZA MAU NYANYI...
Begitulah putraku kalau mau menunjukkan aksi panggungnya agar orang-orang melihat dan mendengarnya. Apalagi sekarang dia sudah punya penyanyi idola dan boyband favorit.
hancur hancur hatiku...
hancur hancur hatiku...
Dengan membawa gagang sapu, atau benda apa saja sekenanya untuk dijadikan microphone dia bernyanyi dengan lincah menyanyikan lagu idolanya. Beberapa saat kemudian
Dia sudah beralih ke lagu yang lain dengan gaya seorang vokalis band favoritnya.
apakah aku ada di hatinya...
aku disini menunggunya...
Begitulah gaya putraku kalau dia lagi unjuk kebolehan didepanku.
Pernah suatu ketika aku tanya ke dia: "Mas Gaza, anak kecil khan gak boleh nyanyiin lagu-lagu anak besar." Apa jawab putraku?
"Ih bunda teman-teman gaza nyanyi lagu anak besar tapi mamanya gak marah." Aku baru sadar kalau putraku sudah pinter 'ngeles' kalau dinasehati.
Pernah suatu hari aku setelin seharian lagu anak-anak Idola Cilik, Apa komentar Putraku...
"Ih bunda itu khan lagunya anak kecil, Gaza gak suka..." Aku kaget dengar jawabannya.
"Emang Gaza sudah besar?" tanyaku soelah-olah penasaran ingin tahu.
"Udah Bunda, Gaza khan makannya banyak... Gaza suka bantu bunda goreng telur..." jawabnya dengan serius.
"Tapi khan Gaza belum sunat..."Lanjutku lagi pura-pura merajuk.
"sunatnya nanti bunda kalau Gaza sudah sekolah yang banyak (SD)."Jawabnya lagi.
"Kalau belum sunat berarti Mas Gaza masih kecil..." aku menerangkan ke Putraku.
"Terus kalau Gak boleh nyanyi lagu anak besar, Gaza nyanyi lagu apa dong?" Tanyanya sambil sedikit manyun mulutnya.
"Ya lagu anak-anak dong..." jawabku
"Bunda kalau lagu...'C...A minor...D minor...ke G...ke C lagi...boleh gak?" Tanyanya sambil menyanyikan refrain sebuah lagu...
"Boleh..." jawabku mengijinkan...karena lagunya jenaka dan santun untuk dinyanyikan anak-anak.
"Asyik...!...bunda AXIS Ya ('baik' jinggel sebuah iklan seluler)..."Teriaknya
"Ya iya dong..." jawabku.
Mulai saat itu Putraku kalau mau menyanyikan lagu sekiranya itu punya orang dewasa dia selalu minta ijin sama aku...GAZA...GAZA...I love you...
Read more...
Monday, May 4, 2009
"PENGEMIS ITU KASIHAN ...BUNDA"
Siang itu aku mengajak Putraku Gaza (4 th) ke Pasar traditional. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Gaza aku ajak ke pasar yang keadaannya kotor dan bau. Memang pertama kalinya dia menginjakkan kakinya ke pasar tersebut meluncur berbagai komentar dari mulutnya....
"Bunda...eskokotor (eskalator) kotor ya...ih..bau...itu banyak kuman ya bunda..?" tanyanya dengan gaya cadelnya.
" Gaza gak mau pegang eskokotor (eskalator) bunda, nanti tangan Gaza kotor..." lanjutnya lagi.
"Tempatnya memang kotor Gaza...tapi kalau belanja disini harganya murah..." Aku berusaha menjelaskan kepada Gaza.
"Kalau di Mall mahal ya, bunda?" tanyanya lagi
"iya..." jawabku..
Beberapa jam kemudian begitu sudah selesai belanja aku dan Gaza pulang, sambil bergandengan tangan aku dan Gaza menuruni anak tangga pintu keluar pasar...
Tiba-tiba gaza berhenti didepan pengemis yang kedua belah tangannya cacat (diamputasi)...
" Bunda Gaza mau minta uang buat pengemis..." pintanya kepadaku
Aku berikan uang koin kepada Gaza untuk diberikan kepada pengemis.
"ini uangnya...kakek...." kata Gaza kepada pengemis itu.
"Diletakkan saja uangnya di ember itu Gaza, Kakeknya gak bisa menerima pakai tangan..." kataku mengingatkan Gaza.
Kejadian mengenai Pengemis itu sudah berlalu. Aku dan Gaza sudah sampai rumah, dan aku pikir Gaza sudah tidak mengingat kejadian itu lagi.
Waktu sudah menjelang Isya dimana waktunya Gaza untuk pergi tidur.
"Bunda, Gaza capek mau bobok..." katanya padaku
"Ok...Gaza sikat gigi, cuci kaki dan ganti baju terus bobok..." jawabku sambil mengingatkan rutinitas Gaza.
Aku siapkan semua keperluan Gaza untuk berangkat tidur...begitu dia sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tiba-tiba dia bertanya:
"Bunda, Kakek pengemis itu kalau makan gimana ya? kakek itu gak punya tangan..."tanyanya
" Ya pakai kaki ambil makannya, atau dusuapin sama cucunya atau anaknya..."jawabku
"kakek pengemis kasihan ya, bunda... Gaza mau suapin kakek pengemis itu..." lanjutnya.
"Gaza mau suapin kakek itu?" tanyaku terkagum-kagum.
"iya, bunda..." jawabnya. "Bunda kakek pengemis itu rumahnya dimana?" tanyanya dengan masih penasaran.
"kakek itu gak punya rumah...dia bobok di dekat eskalator yang kotor itu..."jawabku membangkitkan emosi Gaza.
"Bunda...Kakek pengemis itu biar bobok di rumah Gaza ya...Kakek itu suruh mandi dulu terus bobok di rumah Gaza, makan di rumah Gaza...biar gak sakit..."katanya dengan sedikit emosi.
"Boleh. Makanya Gaza sekolah yang pinter, rajin menabung...nanti uangnya buat membantu orang seperti kakek pengemis itu ya..." aku sedikit menenangkan hati Gaza.
"iya Bunda..." jawabnya
"Sekarang Gaza baca Do'a...terus tidur biar besok gak kesiangan....Good night Gaza... I love you...Assalamualaikum"sapaku mengantar tidur.
"Good night...i yuv yu ( ilove you)...Salaaaam.." jawabnya dengan gaya cadelnya...
Perasaanku sangat bangga melihat pertumbuhan putraku...mudah-mudahan apa yang dia inginkan barusan, ingin menyantuni orang-orang kurang beruntung akan terlaksana, AMIN. Bunda berdo'a untuk mu Nak...
Read more...
